Upaya-upaya tersebut didorong oleh apa yang menurut para ahli akan terjadi krisis air global, yang sebagian disebabkan oleh perubahan iklim, yang dapat menyebabkan dua pertiga umat manusia menghadapi kekurangan air pada tahun depan.
Kepala Cabang Kelautan dan Air Tawar UNEP, Leticia Carvalho, mengatakan, kelangkaan air telah menjadi masalah penting bagi semakin banyak negara.
Oleh karena itu, kata Carvalho, negara-negara di seluruh dunia harus lebih kreatif dalam mengelola, melestarikan, dan mengamankan sumber air di tahun-tahun mendatang.
“Menggunakan sumber air non-konvensional secara bijak dan selaras dengan alam akan sangat penting untuk mempercepat kemajuan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan,” ujarnya.
Keamanan air diharapkan menjadi agenda ketika para pemimpin bertemu di Nairobi, Kenya bulan depan untuk sesi keenam Majelis Lingkungan Hidup PBB (UN Environment Assembly) — badan pengambil keputusan tingkat tertinggi di dunia mengenai isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan.
Saat ini, 2,4 miliar orang tinggal di negara-negara yang kekurangan air, yang didefinisikan sebagai negara-negara yang menggunakan 25 persen atau lebih sumber daya air tawar terbarukan untuk memenuhi kebutuhan air.
Daerah yang terkena dampak paling parah adalah Asia Selatan dan Tengah, serta Afrika Utara, di mana situasinya dianggap kritis. Bahkan negara-negara dengan infrastruktur yang sangat maju, seperti Amerika Serikat, mengalami penurunan permukaan air hingga mencapai rekor terendah.




