Jakarta – Fair Trade atau perdagangan yang adil untuk komoditas tuna telah dikembangkan USAID-SEA (Sustainable Ecosystems Advanced) di Maluku dan Maluku Utara. Label sertifikat akan diperoleh perusahaan dan nelayan yang tergabung dengan Fair Trade ini.
Fair Trade tetap mempertahankan budaya yang sudah ada dan nelayan mendapat pelatihan manajeman keuangan dan keselamatan di laut. “Yang terpenting adalah menjaga stok ikan tetap aman,” kata konsultan Fair Trade, Sven Blankenhorn, dalam seri talkshow yang selenggarakan USAID-SEA bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Pacific Place Mall Rabu (11/7) di Jakarta.
Menurut Sven, Fair Trade di Indonesia khususnya untuk nelayan di Maluku dan Maluku Utara sudah mulai berjalan dengan baik, seperti di Pulau Buru dan pulau lainnya. Fair trade ini sebagai alat bagi nelayan. Alat ini bukan hanya untuk menangkap ikan, tetapi untuk pencatatan.
Robert Djoanda Direktur PT Harta Samudra mengatakan, mulanya mempertanyakan apa manfaat Fair Trade ini bagi perusahaan. Karena tantangan Fair Trade ini adalah bagaimana membangun kepercayaan dengan nelayan.
Seiring dengan berjalannya waktu, dengan Fair Trade ini, perusahaan lebih dekat dengan nelayan melalui komunitas yang terbentuk. “Melalui Fair Trade nelayan diajarkan bagaimana keberlanjutan hasil tangkapan ikan,” ujar Robert.
Harta Samudera kini telah memiliki sertifikat Fair Trade. Yang memperkenalkan Fair Trade ini pembeli ikan, dimulai tahun 2012. Pada 2014, Fair Trade mulai dijalankan dengan membentuk kelompok-kelompok nelayan.
Dengan terbentuknya kelompok-kelompok nelayan, perusahaan mengumpulkan ikan hasil tangkapan langsung dari sumbernya. Untuk mempertahankan kesegaran ikan, telah dibangun beberapa cold storage, seperti di Pulau Buru, Banda,Morotai, Seram dan Sula.
Rustam, nelayan yang juga Ketua Komite Fair Trade Pulau Buru, Maluku, mengatakan kelompok Fair Trade mulai terbentuk tahun 2014. Melalui kelompok ini, pengumpul (perusahaan) bekerja sama dengan nelayan.
Dengan Fair Trade, nelayan banyak mendapat informasi. “Selama ini, nelayan miskin informasi,” katanya.*





Komentar tentang post