Prof Wiku mencontohkan, salah satunya terkait dengan indikator epidemiologi. Apabila suatu wilayah terjadi penurunan jumlah kasus selama 2 minggu sejak puncak terakhir ini sangat baik. Jumlah kasus ini tidak hanya pada kasus positif Covid-19, tetapi juga kasus ODP dan PDP atau kasus probable yang ada di wilayah itu.
Menurut Wiku, tren waktu yang digunakan dalam dua mingguan dan bukan harian.
“Bukan prestasi naik-turun naik-turun, kalau kita melihatnya per hari bisa naik-turun naik-turun. Tapi kalau kita lihatnya perminggu, nanti bisa kelihatan, ini akan turun atau datar atau naik,” katanya.
Melalui ke 3 indikator, kita dapat melihat tingkat risiko penularan Covid-19 suatu wilayah.
“Jadi, kalau kita mengukur tadi dengan indikator kesehatan masyarakat maka kita akan dapat peta risiko,” ujar Wiku.
Dengan penilaian berdasarkan indikator kesehatan masyarakat, dapat mengetahui tingkat risikonya. Gugus Tugas Nasional memetakan tiga tingkatan risiko, yaitu tinggi dengan warna merah, sedang berwarna kuning, rendah berwarna hijau, sedangkan warna biru merupakan wilayah yang tidak terdampak.
Prof Wiku mengatakan, mengenai alat navigasi yang dapat diakses oleh masyarakat untuk mengetahui risiko suatu wilayah, yaitu aplikasi Bersatu Lawan Covid-19 atau BLC.





Komentar tentang post