Penggunaan obat-obatan yang berlebihan di bidang pertanian masih menjadi kekhawatiran karena para petani di seluruh dunia terus bergantung pada antimikroba. Termasuk untuk menjaga kesehatan hewan dan, dalam beberapa kasus, mendorong pertumbuhan mereka.
Sementara itu, hingga 75 persen antibiotik yang digunakan dalam budidaya perairan mungkin hilang ke lingkungan sekitar. Fungisida, antibiotik, dan bahan kimia lain yang digunakan pada tanaman biasanya diterapkan langsung ke lingkungan dan dapat mengakibatkan konsentrasi polutan lokal yang lebih tinggi yang berdampak pada resistensi antimikroba.
Keempat, pergerakan massal orang
Globalisasi yang pesat telah mengakibatkan meningkatnya jumlah orang dan barang yang bergerak melintasi batas negara. Pada tahun 2019 saja, tercatat 4,5 miliar orang melakukan perjalanan melalui udara.
Perpindahan manusia dalam jumlah besar dapat berkontribusi terhadap beban resistensi antimikroba dengan membiarkan mikroorganisme yang resisten berpindah dari satu belahan dunia ke belahan dunia lainnya.
Penelitian telah menunjukkan bahwa bakteri resisten antimikroba yang dibawa oleh manusia dapat bertahan hingga 12 bulan setelah perjalanan, sehingga semakin berkontribusi terhadap risiko penularan AMR.
Yang lebih rumit lagi, menurut Badan Pengungsi PBB, saat ini terdapat 110 juta orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia. Banyak dari mereka tidak memiliki akses terhadap hak-hak dasar termasuk perumahan yang layak, layanan kesehatan, air dan sanitasi, yang merupakan faktor-faktor yang meningkatkan penyebaran AMR.




