Data riset terbaru Tubagus menyebutkan kerentanan ini diperparah oleh kondisi morfologis di kawasan tersebut.
Secara morfologi, kata Tubagus, Pantai Utara Jawa itu didominasi oleh pantai berelief rendah atau pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter. Dan itu menempati 83 persen dari panjang seluruh Pantai Utara Jawa.
Analisis perubahan garis pantai menggunakan Citra Satelit Sentinel selama periode 2000 hingga 2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Tubagus merinci, perubahan garis pantai didominasi oleh laju erosi sebesar 65,8 persen, sementara tingkat akresi (penambahan daratan) hanya berada di angka 34,2 persen.
Tubagus juga menjelaskan anomali dari data pemantauan, di mana erosi yang masif justru terjadi di lingkungan delta yang secara alamiah merupakan area sedimentasi.
Kondisi ini sangat berkaitan erat dengan aktivitas modifikasi di daerah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arah sungai, dan pembangunan bendungan, yang pada akhirnya memutus suplai sedimen ke wilayah muara pesisir.
Dampak dari modifikasi antropogenik ini terekam jelas di berbagai titik. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah lenyap tererosi akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.
Kemudian di kawasan Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut telah merangsek masuk hingga 4 kilometer ke daratan, menenggelamkan infrastruktur publik secara permanen serta merendam lebih dari 1.000 hektare tambak warga.




