Selain itu, dapat menyebabkan degradasi fungsi dan kualitas lingkungan yang mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati laut. Jika kita tidak mengatasinya, kerugian ekonomi, ekologi dan sosial akan kita sesali di kemudian hari.
Tantangan baru dalam masalah lingkungan laut seperti polusi plastik dan mikroplastik, polutan yang muncul seperti obat-obatan, pengganggu endokrin, hormon, racun, dan eutrofikasi telah menjadi perhatian global.
Lebih buruk lagi, ekosistem pesisir dan laut kita juga menerima dampak yang signifikan karena peningkatan suhu permukaan laut global dan pengasaman laut yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Untuk itu, Indonesia mengajak semua negara yang tergabung ke dalam COBSEA regional Asia Timur untuk memecahkan masalah pesisir dan kelautan secara bersama. Kegiatan tersebut harus dilakukan oleh semua negara anggota dan diimplementasikan dalam kerangka kerja sama antar negara dengan meningkatkan kapasitas di bidang sumber daya manusia, pengetahuan dan alih teknologi.
Agenda utama IGM-24 COBSEA kali ini membahas draft revisi COBSEA Regional Action Plan on Marine Litter (RAP MALI) hingga membahas pengembangan Regional Node of the Global Partnership on Marine Litter (GPML).
Soehardjono mengatakan, kolaborasi adalah kunci bagi upaya global dalam mengatasi masalah pesisir dan kelautan. Karena itu, Indonesia mendorong negara anggota untuk melanjutkan pekerjaan ini, untuk meningkatkan pembangunan kapasitas, pengetahuan dan berbagi pengetahuan melalui kolaborasi dan kemitraan yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil dan para ahli di tingkat regional dan global.





Komentar tentang post