Literasi Digital dan Dakwah
Kegiatan berselawat yang dilaksanakan UNG tahun ini bertepatan dengan peringatan Hari Santri, menegaskan bahwa spiritualitas dan pengetahuan adalah dua sisi yang saling melengkapi.
UAS mengaku kagum karena baru pertama kali melihat kampus negeri memperingati Hari Santri dengan nuansa berselawat.
“Universitas memperingati hari santri, saya baru kali ini menyaksikan langsung kegiatan seperti ini. Semua jamaahnya menggunakan sarung seperti santri, ini luar biasa,” ujar UAS sambil tersenyum.
Di tengah suasana keagamaan itu, makna literasi informasi justru muncul lebih jelas. Melalui lantunan selawat, peserta diajak memahami nilai kebenaran dan kebersihan hati.
Di sisi lain, kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi memberi ruang bagi mahasiswanya untuk mempraktikkan nilai tabayun, mencari penjelasan sebelum menyimpulkan sesuatu.
Kegiatan seperti ini memperlihatkan bahwa melawan disinformasi tidak selalu harus dilakukan melalui diskusi formal atau seminar literasi digital. Kadang, nilai-nilai itu justru tumbuh di ruang spiritual yang hangat dan inklusif.
Bagi Prof. Eduart, “UNG Bersholawat” adalah refleksi dari spiritual communication yang menjadi jembatan antara nilai akademik dan nilai kemanusiaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa literasi bukan hanya soal membaca teks, tapi juga membaca makna. Melalui kegiatan keagamaan seperti ini, mahasiswa belajar tentang klarifikasi, empati, dan tanggung jawab sosial,” kata Prof. Eduart.




