“Selama ini saya hanya tahu Ustaz Abdul Somad dari media sosial. Kadang yang muncul di beranda itu video singkat, bahkan kadang isinya menimbulkan salah paham. Tapi setelah dengar langsung, ternyata beliau sangat santun dan pesannya menyejukkan,” kata Iska.

Iska mengatakan kegiatan seperti ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana kebenaran seharusnya dicari dengan mendengar langsung, bukan dari potongan narasi yang disebar tanpa konteks.
“Ini jadi pelajaran berharga bahwa tidak semua yang viral itu benar. Kita harus periksa dulu sumbernya sebelum percaya atau membagikan ke orang lain,” ujarnya.
Suasana religius malam itu tak hanya menghadirkan kedamaian, tetapi juga refleksi mendalam bagi generasi muda tentang peran mereka di dunia digital. Rendy, mahasiswa Fakultas Teknik UNG, mengakui bahwa kehadiran UAS di kampus menjadi momen yang mengubah pandangannya.
“Saya jadi sadar, banyak orang menilai sesuatu dari potongan video tanpa tahu konteks. Setelah mendengar tausiah, saya melihat sisi yang berbeda. Beliau menekankan pentingnya adab, rasa syukur, dan tidak iri pada keberhasilan orang lain. Ini sangat menyejukkan,” kata Rendy.
Rendy menilai mahasiswa memiliki peran penting sebagai penyeimbang di tengah banjir informasi.
“Kita harus jadi filter, bukan penyebar kabar bohong. Sebagai generasi muda, tanggung jawab kita bukan cuma belajar teori di kampus, tapi juga menjaga kebenaran di ruang digital,” ujar Rendy.




