Kedamaian
Di dunia digital, pesan yang salah sering menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Namun malam itu di UNG, kedamaian menjadi pesan utama yang menembus batas algoritma.
Zikir dan selawat menggema bukan hanya di ruang kampus, tapi juga di hati para peserta yang menyadari pentingnya menahan jari sebelum menyebar berita.

Salah satu jamaah dari masyarakat umum, Nurhayati, mengaku terharu melihat ribuan mahasiswa larut dalam selawat bersama.
“Anak-anak muda sekarang lebih sering sibuk dengan ponsel. Tapi malam ini, mereka larut dalam doa, bukan dalam notifikasi. Itu sangat menyejukkan,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung hingga larut malam itu berakhir dengan doa bersama untuk negeri.
Pesan UNG Berselawat
UNG berselawat bukan hanya bentuk melawan misinformasi dan disinformasi melalui ruang spiritual di kampus. UNG berselawat memberi pesan bahwa literasi, informasi dan ketenangan spiritual tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling melengkapi sebagai bekal menghadapi dunia yang penuh distraksi.
Bagi UAS, menjaga hati dari hasad adalah kunci untuk hidup damai. Bagi mahasiswa, menjaga pikiran dari disinformasi adalah kunci untuk hidup cerdas. Dan di tengah dua pesan itu, kampus hadir sebagai ruang pertemuan antara pengetahuan dan keimanan.
“Kalau kita melihat saudara kita sukses, doakan agar keberkahan juga sampai kepada kita. Karena rezeki tidak akan tertukar,” kata UAS di penghujung tausiah.




