Ketiga, Riset Oseanografi dan interaksi laut–atmosfer yang mencakup terkait perubahan iklim dan dinamika sumber daya laut. Keempat, Riset Hidrografi meliputi pemetaan dasar laut nasional dan kawasan dasar laut internasional.
Nugroho mengatakan riset tentang hidrografi atau pemetaan lantai samudera ini sangat penting untuk menjaga seluruh potensi dasar laut kita pada saat ini ada kawasan dasar laut internasional, kawasan dasar laut nasional yang sangat perlu untuk kita ketahui dan kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa.
Berdasarkan real demand survey, kebutuhan ideal riset kelautan Indonesia mencapai 2.500 hingga 8.000 hari layar per tahun. Angka tersebut jauh melampaui kapasitas kapal riset nasional saat ini, kata Nugroho.
“Jadi melihat atas kondisi existing sekarang, melalui real demand survey kita bisa mengurutkan atau kita bisa membedah secara lebih dalam bahwa kita memerlukan setidaknya 2.500 hari layar per tahun dalam kasus yang ideal adalah 8.000 hari layar per tahun yang ini tidak dapat dipenuhi oleh kapal riset nasional,” kata Nugroho.
Nugroho menyampaikan terkait permasalahan pembiayaan kapal riset, untuk riset ilmiah kelautan ini menjadi problematik karena memerlukan pembiayaan yang sangat besar meliputi operasional kapal riset, penyiapan infrastruktur dan lainnya, kemudian penyiapan tenaga teknisi dan operator yang melaksanakan pengambilan data.




