Akses Kapal Riset 105 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Indonesia Masih Terbatas

Kapal riset Baruna Jaya VIII. FOTO: BRIN

Darilaut – Saat ini terdapat 105 fakultas perikanan dan ilmu kelautan di Indonesia dengan akses kapal riset yang masih sangat terbatas.  Kondisi ini menjadi kendala serius dalam pengembangan sumber daya manusia dan riset maritim.

“Dengan akses kapal riset ini sangat penting untuk melaksanakan pembinaan sumber daya manusia di bidang riset ilmiah kelautan,” kata Direktur Pengelola Armada Kapal Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Dwi Hananto, seperti dikutip dari Brin.go.id.

Nugroho menjelaskan bahwa terdapat empat bidang tema utama riset ilmiah kelautan yang akan difasilitasi kapal riset.

Pertama, Geoscience kelautan yang meliputi eksplorasi geologi, geofisika, geokimia, petrologi, sedimentologi dan paleontologi untuk mengungkap sejarah dan struktur kerak bumi di laut dan samudera khususnya untuk mengidentifikasi sumber daya yang tergantung di dalamnya baik itu sumber daya yang memiliki nilai ekonomi tinggi maupun sumber bencana yang mungkin mengancam kita semua.

Kedua, Riset Biodiversitas dan perikanan yakni meliputi riset eksploratif untuk mengungkap kehidupan laut dalam berbagai dimensi mulai dari dimensi ekosistem, spesies, makro, mikro, dan molekuler. Di sini juga termasuk fish stock assessment di wilayah perairan nasional dan ZEE.

Ketiga, Riset Oseanografi dan interaksi laut–atmosfer yang mencakup terkait perubahan iklim dan dinamika sumber daya laut. Keempat, Riset Hidrografi meliputi pemetaan dasar laut nasional dan kawasan dasar laut internasional.

Nugroho mengatakan riset tentang hidrografi atau pemetaan lantai samudera ini sangat penting untuk menjaga seluruh potensi dasar laut kita pada saat ini ada kawasan dasar laut internasional, kawasan dasar laut nasional yang sangat perlu untuk kita ketahui dan kita manfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan bangsa.

Berdasarkan real demand survey, kebutuhan ideal riset kelautan Indonesia mencapai 2.500 hingga 8.000 hari layar per tahun. Angka tersebut jauh melampaui kapasitas kapal riset nasional saat ini, kata Nugroho.

“Jadi melihat atas kondisi existing sekarang, melalui real demand survey kita bisa mengurutkan atau kita bisa membedah secara lebih dalam bahwa kita memerlukan setidaknya 2.500 hari layar per tahun dalam kasus yang ideal adalah 8.000 hari layar per tahun yang ini tidak dapat dipenuhi oleh kapal riset nasional,” kata Nugroho.

Nugroho menyampaikan terkait permasalahan pembiayaan kapal riset, untuk riset ilmiah kelautan ini menjadi problematik karena memerlukan pembiayaan yang sangat besar meliputi operasional kapal riset, penyiapan infrastruktur dan lainnya, kemudian penyiapan tenaga teknisi dan operator yang melaksanakan pengambilan data.

“Nah ini menjadi hambatan bagi para periset untuk mengusulkan riset ilmiah kelautan tanpa adanya terobosan dalam hal strategi pendanaan,” kata Nugroho Dalam Market Sounding Proyek KPBU Kapal Riset Nasional BRIN di auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (18/2).

”Kami harapkan dengan proyek KPBU ini dapat memberikan terobosan yang kita perlukan untuk mempercepat riset ilmiah kelautan di tanah air.”

Exit mobile version