Temuan tersebut kemudian mendorong pelaksanaan Ekspedisi Siboga pada 1899–1900 yang dipimpin Max Weber bersama Anna Weber van Bosse.
Ekspedisi sejauh sekitar 12.000 mil laut itu menghasilkan data penting mengenai topografi dasar laut, sirkulasi massa air, dan distribusi organisme laut dalam di berbagai perairan Nusantara.
“Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara kondisi fisik laut, seperti suhu, kedalaman, dan sirkulasi arus, dengan pola persebaran organisme laut,” kata Annayu seperti dikutip dari Brin.go.id.
”Temuan-temuan inilah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi perkembangan ilmu oseanografi dan biogeografi laut di Indonesia hingga saat ini.”
Kepala Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, A’an Johan Wahyudi, menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan pemanfaatan Laut Dalam perlu menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, Indonesia memiliki kawasan laut dalam yang sangat luas, tetapi sebagian besarnya masih belum dipahami secara ilmiah. Karena itu, penguatan riset, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan data, serta kolaborasi menjadi fondasi utama untuk mewujudkan Deep Sea Mission 2045 sekaligus mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.



