Dalam situasi darurat ini, AMSI menegaskan pentingnya peran media sebagai pengawas publik. Gangguan jaringan telekomunikasi, pemadaman listrik total, dan sinyal yang hilang-timbul membuat posko dan kantor desa terpaksa menggunakan perangkat Starlink untuk berkomunikasi dengan dunia luar.
AMSI juga menyoroti kondisi jurnalis dan karyawan media yang turut terdampak. Sebagian kehilangan rumah, terisolasi, dan menghadapi kelangkaan bahan bakar seperti solar dan bensin khususnya di Tapanuli Selatan yang menghambat kerja-kerja peliputan.
Data AMSI mencatat dampak bencana tersebar di 14 kabupaten/kota di Aceh, 5 kabupaten/kota di Sumatera Utara, dan 13 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Situasi darurat diperkirakan berlangsung 2-3 hari ke depan sehingga kebutuhan dasar seperti makanan dan barang harian menjadi prioritas utama.
Atas situasi tersebut, AMSI meminta Pemerintah Pusat dan BNPB memberikan akses prioritas bagi jurnalis yang bertugas di wilayah terdampak. Bantuan logistik, BBM, serta akses komunikasi darurat diperlukan agar jurnalis dapat menjalankan fungsi vitalnya dalam menyampaikan informasi akurat kepada publik.
AMSI berharap seruan ini dapat menjadi masukan untuk mempercepat penanganan bencana dan memastikan seluruh korban serta masyarakat terdampak mendapatkan penanganan optimal.




