Tim peneliti UNG menyampaikan sejumlah strategi agar bahasa Gorontalo tidak punah.
a) Sinergi Keluarga: Menjadikan rumah sebagai laboratorium bahasa pertama. Di Rumah bahasa Gorontalo digunakan sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
b) Revitalisasi Sekolah: Mendorong integrasi bahasa daerah ke dalam kurikulum lokal dengan materi yang kreatif dan mudah dicerna siswa.
c) Ruang Komunitas: Memperbanyak ruang kreatif berbasis budaya agar bahasa daerah tetap relevan dengan selera zaman.
d) Regulasi Pemerintah: Mendorong kebijakan konkret yang melindungi dan mempromosikan penggunaan bahasa daerah di ruang publik dan formal.
Hasil riset menyebutkan penurunan vitalitas bahasa Gorontalo disebabkan oleh beberapa faktor sistemik:
1) Lingkungan Keluarga: Transmisi bahasa dari orang tua ke anak semakin melemah. Banyak orang tua merasa lebih bangga jika anaknya berkomunikasi dengan bahasa asing atau nasional.
2) Ruang Pendidikan: Bahasa Gorontalo belum terintegrasi secara maksimal dalam kurikulum sekolah, ditambah minimnya bahan ajar dan literatur yang memadai.
3) Dukungan Kelembagaan: Belum adanya kebijakan yang kuat dan sistematis dalam pelestarian bahasa di tingkat formal.
Hasil penelitian ini bukan hanya menjadi catatan akademik, melainkan sebuah “peta jalan” (roadmap) bagi pemerintah dan masyarakat untuk menyelamatkan Bahasa Gorontalo.



