Darilaut – Bahasa Gorontalo kini berada di titik yang rentan. Dominasi bahasa nasional dan bahasa asing di ruang publik serta kehidupan sehari-hari membuat Bahasa Gorontalo perlahan tersingkir dari tutur kata masyarakatnya sendiri. Terutama di kalangan generasi muda.
Menyadari ancaman serius tersebut, sejumlah dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bergerak cepat. Dipimpin Prof. Dr. Dakia N. Djou, bersama Dr. Ellyana G. Hinta, dan Dr. Salam, mereka melakukan riset mendalam.
Jika tidak segera digiatkan upaya penyelamatan, bukan tidak mungkin bahasa ini akan menjadi warisan sejarah yang hanya bisa kita baca dalam buku, bukan lagi didengar dari lisan masyarakat.
Penelitian ini melalui skema Penelitian Fundamental Reguler 2025 yang didanai oleh DPPM Kemdiktisaintek.
Penelitian berjudul “Strategi Revitalisasi Bahasa Gorontalo sebagai Upaya Penyelamatan Kepunahan Bahasa Daerah di Provinsi Gorontalo” menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan tokoh adat, guru, akademisi, hingga penutur lintas generasi.
Hasil penelitian menunjukkan peran aktif komunitas adat, praktik budaya yang masih hidup, hingga komitmen pemerintah daerah adalah modal besar untuk revitalisasi.
Kunci dari strategi yang dirumuskan Prof. Dakia dan tim adalah pendekatan holistik. Mereka menegaskan bahwa pelestarian bahasa tidak bisa dilakukan secara parsial atau “jalan sendiri-sendiri”.



