Darilaut - Fenomena El Niño akan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun 2026, namun dampaknya akan terus terasa jauh setelah itu. Bersiap menghadapi puncak El Niño untuk mencegah dampak terburuk terhadap manusia. Peristiwa El Niño berpotensi membawa dampak kehancuran. Badan-badan PBB membantu negara-negara untuk mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana ke dalam aspek hunian dan kesiapsiagaan sejak awal, alih-alih hanya bereaksi setelah bencana terjadi. Berikut beberapa contohnya: Chili: Perubahan pola curah hujan telah memicu banjir mematikan di sejumlah wilayah. Di wilayah Antofagasta bagian utara, Program Pembangunan PBB (UNDP) membantu membangun penghalang masif untuk menahan terjangan lumpur dan puing-puing. Madagaskar: Menghadapi siklon yang kerap berulang, klaster hunian nasional tengah menyusun strategi yang mencakup rencana aksi kemanusiaan lima tahun, dengan proyek percontohan yang telah berjalan sejak awal 2025 di wilayah Atsimo Andrefana dan Androy. Nigeria: Meski terdapat pemotongan bantuan, Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR) bersama Global Shelter Cluster mempertemukan pemerintah serta mitra di bidang kemanusiaan dan lingkungan pada Juni 2025. Pertemuan ini bertujuan merancang peta jalan untuk hunian yang lebih aman di wilayah-wilayah yang terdampak konflik dan guncangan iklim. Yaman: Lebih dari empat juta orang terpaksa mengungsi, banyak di antaranya tinggal di lahan yang rentan banjir. Pada tahun 2024 saja, banjir bandang telah melanda lebih dari 100.000 rumah tangga. Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR), UNDRR, dan berbagai mitra telah mendukung upaya pertahanan berbasis komunitas, termasuk pembangunan saluran pengalihan banjir sepanjang 2,5 km di distrik Al-Hazm. Kepala Urusan Kemanusiaan PBB, Tom Fletcher, menggambarkan bahwa El Niño kali ini sebagai “sesuatu yang sangat masif… layaknya bola penghancur yang kemungkinan besar akan melanda Amerika Latin, Afrika bagian timur dan selatan, Asia, serta Pasifik dengan panas ekstrem, kekeringan, dan banjir.” Pendanaan Mencegah Bencana Dua minggu ke depan akan menjadi masa krusial untuk mencegah krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat fenomena El Niño. Fletcher mengatakan bahwa Somalia, Ethiopia, dan Kenya sangat membutuhkan pendanaan serta pasokan darurat sebelum hujan lebat tiba. Di Afrika bagian selatan, prioritas utamanya adalah menyediakan benih dan melindungi ternak, sementara Amerika Tengah memerlukan dukungan segera untuk menjaga mata pencaharian penduduk. Di seluruh wilayah Asia dan Pasifik, berbagai negara harus bersiap menghadapi serangkaian guncangan iklim, termasuk kekeringan, banjir, dan siklon. “Akan menjadi kegagalan yang luar biasa jika kita sudah melihat krisis ini akan datang dan mendengar prediksi dari para ahli, namun tetap menyia-nyiakan kesempatan untuk melindungi masyarakat yang berada di jalur dampaknya,” kata Fletcher. Ia menekankan bahwa sekitar 50 juta orang terancam mengalami kelaparan yang lebih parah akibat fenomena cuaca ini. Ia juga mengutip perkiraan Bank Pembangunan Afrika (African Development Bank) yang menyebutkan bahwa dampak tersebut akan menelan biaya antara 10 hingga 20 miliar dolar AS bagi negara-negara Afrika, “serta menurunkan PDB mereka sebesar satu hingga dua persen.” Suntikan Dana PBB Untuk mendukung upaya ketahanan, pejabat tinggi bantuan PBB mengumumkan telah mengucurkan lebih dari 50 juta dolar AS dari Dana Tanggap Darurat Pusat (Central Emergency Response Fund) guna membantu 11 negara yang berada di garis depan, termasuk Chad, El Salvador, Ethiopia, Somalia, dan Sudan Selatan. Dampak jangka panjangnya “akan terasa selama berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun ke depan,” lanjut Fletcher. Ia juga menyoroti tekanan tambahan terhadap sistem kemanusiaan akibat gangguan rantai pasok global di Selat Hormuz dan Laut Hitam—yang masing-masing terkait dengan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, serta invasi skala penuh Rusia ke Ukraina.