“Di sinilah peran A3I bersama BMKG terutama untuk mendukung literasi dan menguatkan prediksi karena fenomena cuaca yang terjadi tidak hanya terkait La Nina semata, namun juga dapat dipengaruhi Madden Julian Oscillation (MJO) dan kejadian siklon tropis yang dampaknya bisa sampai ke wilayah Indonesia,” ujarnya.
A3I sebagai organisasi profesi sains atmosfer mempunyai tanggung jawab untuk berkontribusi dalam meningkatkan literasi tentang meteorologi dan klimatologi.
Khususnya saat ini tentang fenomena La Nina dan strategi antisipasinya, baik kepada anggota A3I maupun masyarakat umum.
Webinar A3I mengundang para pakar sains atmosfer dan pakar klimatologi terapan pada sektor pertanian, perikanan dan lingkungan, diharapkan akan dapat mengedukasi dan meningkatkan literasi masyarakat mengenai fenomena La-Nina dan Musim Hujan 2020/20201.
Berdasarkan catatan historis BMKG, sepanjang terjadinya fenomena La Nina, umumnya 40 persen curah hujan di atas normal. Potensi cuaca ini harus diwaspadai secara dini.
Dampak La Nina terhadap curah hujan di beberapa wilayah Indonesia beragam. Berdasarkan analisis cuaca, bulan Oktober dan November dampak fenomena ini di wilayah tengah dan timur.
Pada Desember, Januari dan Februari, dampak La Nina di wilayah tengah hingga utara Indonesia.





Komentar tentang post