Darilaut – Peristiwa cuaca ekstrem di wilayah barat Indonesia, sering luput dari sistem prediksi konvensional. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat prediksi cuaca ekstrem di wilayah barat Indonesia melalui pengembangan sistem RiME-X (Risk Maps Extreme Weather).
Untuk menunjang sistem ini, dilakukan riset kolaborasi lintas lembaga di dalam negeri serta kerja sama internasional dengan Malaysia dan Tiongkok.
Sistem RiME-X menggabungkan teknologi observasi atmosfer, pemodelan numerik resolusi tinggi, serta kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan peta risiko kejadian ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan badai lokal yang mengancam berbagai sektor strategis nasional.
Ketua Kelompok Riset Interaksi Laut-Atmosfer dan Variabilitas Iklim – Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan, fokus utama riset ini adalah memahami dinamika atmosfer di sekitar Laut Cina Selatan, khususnya interaksi antara laut dan atmosfer yang menghasilkan fenomena Borneo Vortex, sebuah sistem siklonik berskala regional yang kerap menjadi pemicu hujan ekstrem di wilayah Kalimantan dan sekitarnya.
“Kejadian cuaca ekstrem di wilayah barat Indonesia, seperti Kalimantan Barat dan pesisir Sumatra, sebagian besar dipengaruhi oleh sistem dinamika atmosfer tropis yang kompleks dan sering luput dari sistem prediksi konvensional,” ujar Erma, pada Webinar PRIMA bertajuk “Climate Frontiers in Indonesia: Insights from Land, Sea and Sky”, akhir April lalu.




