Untuk itu, kata Erma, sedang dikembangkan pendekatan baru berbasis data observasi lokal, radar cuaca, pemodelan numerik skala mesoscale, dan machine learning.
Dalam program RiME-X, BRIN melakukan integrasi berbagai jenis data termasuk data observasi dari radar cuaca (X-Band), satelit (Himawari, GSMaP), dan stasiun cuaca permukaan untuk menghasilkan peta bahaya (hazard maps) dan risiko cuaca ekstrem (extreme weather risk maps).
Peta ini dirancang untuk menjadi alat bantu utama dalam sistem peringatan dini dan pengambilan keputusan kebijakan publik, khususnya di bidang penanggulangan bencana dan perencanaan pembangunan.
Salah satu lokasi penting dalam proyek ini adalah Pontianak, Kalimantan Barat, yang menjadi titik pemasangan wind profiling radar untuk mendeteksi lapisan angin vertikal secara real-time.
Data yang didapatkan akan digunakan untuk mengamati awal pembentukan awan konvektif dan pergerakan sistem badai tropis yang menjadi sumber hujan ekstrem.
Riset ini tidak dilakukan secara eksklusif, melainkan melibatkan kolaborasi lintas lembaga dan internasional. Mitra dalam negeri seperti BMKG, Universitas Tanjungpura, Universitas Sebelas Maret, dan ITB turut andil dalam pengumpulan data dan validasi model.
Sementara itu, kerja sama internasional dengan institusi dari Malaysia dan Tiongkok mendukung peningkatan kapasitas ilmiah dan pertukaran teknologi.




