Spesies Crocodylus porosus umum ditemukan di seluruh nusantara, dikenal dengan nama buaya muara. Buaya ini memang tinggal di wilayah pertemuan sungai dan laut jadi bisa hidup di air asin dan tawar.
Spesies Crocodylus novaeguneae dikenal hidup di perairan tawar pedalaman Papua. Jenis buaya irian ini mirip buaya muara, tapi lebih kecil dan warnanya lebih gelap.
Spesies Tomistoma schlegelii atau buaya senyulong tersebar di pulau Sumatera dan Kalimantan. Ukuran tubuhnya lebih kecil dan pendek, serta bentuk moncongnya runcing dan sempit.
Spesies Crocodylus raninus, jenis ini disebut buaya kalimantan. Ciri-cirinya mirip dengan buaya muara.
Ke 4 jenis buaya ini dilindungi berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta Permen LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/ 2018. Karena dilindungi, maka tidak dibenarkan untuk dilakukan perburuan.
Sejak dulu manusia berburu satwa liar, termasuk buaya. Di sisi lain, keberadaannya di alam sering dipandang sebagai ancaman terhadap manusia.
Dari 4 jenis, buaya muara yang paling kerap diburu. Ini lantaran bagian-bagian tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Antara lain berupa daging, kulit, lemak, empedu, tangkur, gigi dan kuku.
Daging buaya muara dapat digunakan sebagai sumber protein yang tinggi. Bagian kuku dan gigi dari buaya muara dapat dijadikan sebagai asesoris. Bagian empedu, tangkur dan lemaknya dapat dijadikan untuk obat tradisional.





Komentar tentang post