Orang-orang Torosiaje di masa lalu tidak hanya bergantung pada hilal atau bulan sabit.
Hal ini lantaran kondisi alam atau cuaca. Meskipun berada di laut, bukan berarti hilal akan selalu terlihat. Bulan sabit ini tak dapat diamati apabila mendung atau turun hujan.
Kemunculan bunga sammo inilah sebagai penanda awal dan akhir Ramadan, serta 1 Syawal atau lebaran.
”Kalau sudah mekar bunga sammo, itu malam pertama,” kata Umar, akan tetapi ”mekarnya buah lamun di malam pertama tidak banyak.”
Kearifan lokal awal bulan kamariah di Torosiaje tersebut sudah berlangsung lama. Mekarnya bunga padang lamun sebagai penanda awal Syawal di Torosiaje lahir karena kondisi alam, yang hingga kini masih terus dipertahankan.
Apalagi kondisi orang Torosiaje yang sebagian hidup melaut, mencari ikan, yang seringkali lokasinya jauh atau tidak terjangkau sistem komunikasi seperti telepon seluler dan sarana informasi lainnya termasuk jaringan internet.
Tidak semua jenis lamun sebagai penanda bulan kamariah.
Di masa lalu, leluhur orang Torosiaje Tidak menunggu pengumuman. Praktik ini kata Umar, ”sudah turun-temurun.”
Umar telah mengidentifikasi tiga jenis lamun yang tumbuh di perairan Torosiaje.
Tumbuhan lamun yang menjadi penanda dan berbunga rutin tersebut memiliki panjang daun 0,5 hingga 1,5 meter dan lebar 1 sampai 2 cm.




