Menurut Sri Yanti peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan ini diimplementasikan melalui tiga pendekatan yaitu pemanfaatan sumber daya kawasan secara berkelanjutan, perlindungan jenis terancam punah, implementasi RZWP3K (Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil) dan dukungan kepada Pokmaswas (Kelompok Masyarakat Pengawas) dan pemberian akses pengelolaan sumber daya perikanah oleh masyarakat.
Sementara itu Executive Direktur ICCTF Dr, Tonny Wagey, menyampaikan apresiasi terhadap para mitra yang selama ini menjadi pelaksana program COREMAP-CTI. Seperti Yappeka, Yayasan Reef Check Indonesia, PILI, PKSPL IPB , Terangi, yang telah menunjukkan kesungguhan kerjanya di lapangan.
“Di Yensawai, Raja Ampat, Papua Barat, dan juga di Sumba Timur, NTT, misalnya, kami melihat rehabilitasi kawasan bisa dilakukan oleh masyarakat setempat. Bahkan laki-laki, perempuan, dewasa, remaja dan kaum muda bergerak bersama untuk keselamatan dan kelestarian pulau mereka,” kata Wagey.
“Kami juga melihat perubahan perilaku masyarakat yang semula jadi pengebom laut kini menjadi pembela keselamatan laut seperti yang ditunjukkan warga Mutus, Raja Ampat, Papua Barat.”
Bukan itu saja, menurut Wagey, di Nusa Manuk (NTT), program menyentuh penyediaan listrik tenaga surya yang membuat masyarakat setempat akhirnya bisa menikmati listrik setelah lebih dari 20 tahun hidup tanpa listrik. Penyediaan listrik tersebut dapat memberikan nilai tambah untuk hasil sumber daya perikanan yang mereka hasilkan.





Komentar tentang post