Saat ini, semakin banyak banjir bandang dijumpai daerah hulu. Hal ini menunjukkan ketidakmampuan lahan akibat ketidakpedulian perilaku manusia terhadap lingkungan.
Saparis mengatakan, sedikit saja deviasi terjadi, alam akan mencari kestabilan baru dan terjadilah bencana. Untuk itu KLHK sangat memperhatikan aspek alam dan perilaku manusia dalam program penanggulangan bencana banjir.
Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Keterpaduan Pembangunan, Achmad Gani Ghazaly Akman mengatakan, PUPR terus meningkatkan kemampuan sistem peringatan dini banjir dengan BMKG.
Dengan akurasi perkiraan cuaca yang relatif akurat untuk meningkatkan pemantauan kapasitas air, termasuk memperkuat analisis big data yang lengkap penganggulan bencana.
Menurut Direktur Eksekutif Asia Pacific Centre for Ecohydrology – UNESCO Category II Centre (APCE – UNESCO C2C), Ignasius Dwi Atmana Sutapa, beberapa faktor utama penyebab terjadinya banjir, yaitu curah hujan tinggi akibat perubahan iklim dan berkurangnya daerah tangkapan air. Selain itu, perubahan tata guna lahan, saluran air yang tidak memadai serta perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan.
Tak hanya itu berbagai kendala juga dihadapi untuk menangani permasalahan bencana banjir di antaranya, kebijakan desentralisasi, pengelolaan sumber daya yang tidak optimal, serta tumpang tindih kewenangan antar sektor dan tingkatan.





Komentar tentang post