Menurut Hifny, distribusi air bersih dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan desa-desa yang mengalami penurunan debit sumber air bersih serta wilayah yang akses airnya semakin terbatas akibat musim kemarau berkepanjangan.
Selain mendistribusikan air bersih, BPBD Provinsi Gorontalo juga terus melakukan pemantauan kondisi cuaca dan potensi kekeringan bersama instansi terkait. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan serta percepatan respons apabila terdapat penambahan wilayah terdampak.
Hifny menjelaskan bahwa penanganan kekeringan tidak dapat dilakukan oleh BPBD semata, melainkan membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah kabupaten, perangkat daerah, dunia usaha, organisasi kemanusiaan hingga masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan optimal. Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih, sehingga kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi selama musim kemarau berlangsung, kata Hifny.
Sebagai bentuk respons cepat, BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD kabupaten, Dinas Sosial, Balai Wilayah Sungai (BWS), TNI/Polri, PMI, PDAM, serta pemerintah daerah terus mengoptimalkan distribusi air bersih.



