Periset PRBL BRIN, I Gusti Ngurah Permana, mengatakan bahwa dari riset yang dilakukan di Bali, Jawa Timur, dan Banten menunjukkan penerapan teknologi bioflok mampu meningkatkan performa budidaya secara signifikan.
Menurut Permana tambak-tambak yang dikelola dengan baik, produktivitas mencapai 15–50 ton per hektar persiklus, dengan tingkat kelangsungan hidup udang (survival rate) hingga 98 persen dan rasio konversi pakan/ food convertion ratio (FCR) yang rendah, yakni sekitar 0,9–1,2.
Hasil tersebut menunjukkan efisiensi yang jauh lebih baik dibandingkan sistem konvensional. Selain itu, pertumbuhan harian udang juga relatif tinggi dan stabil, kata Permana.
Periset PRBL BRIN Haryanti menjelaskan bahwa pengelolaan panen parsial yang diterapkan petambak juga memberi ruang tumbuh optimal bagi udang yang tersisa. Ukuran panen akan lebih seragam dan bernilai jual lebih tinggi.
Selain itu, kata Haryanti, komunitas mikroorganisme pembentuk flok seperti mikroba dan mikroalga juga menunjukkan biodiversitas yang baik serta tidak bersifat toksin.
Menurut Periset PRBL BRIN I Ketut Mahardika, tidak semua tambak bioflok otomatis berhasil namun ditentukan oleh komposisi bakteri dan plankton.
Tambak di Bali, misalnya, banyak didominasi bakteri dari kelompok Basilus yang dikenal berperan positif dalam sistem bioflok. Sebaliknya, kata Mahardika, di beberapa lokasi lain ditemukan dominasi bakteri Vibrio, yang berpotensi merugikan bila tidak terkendali.




