Kepala Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi, menjelaskan bahwa BMKG merespons cepat laporan masyarakat terkait suara dentuman berulang yang terdengar sejak pukul 00.30 hingga 05.00 WIB.
Hasil analisis data pemantauan kegempaan BMKG menunjukkan tidak adanya aktivitas seismik di wilayah Bandung dan sekitarnya pada rentang waktu tersebut, sehingga potensi gempa bumi sebagai pemicu suara dentuman dapat dipastikan nihil.
Meskipun aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terdeteksi lewat citra satelit dan peningkatan aktivitas petir di sekitarnya, BMKG menilai kecil kemungkinan suara tersebut merambat hingga Bandung.
Arah angin yang bertiup dari Timur ke Barat pada saat kejadian memperkecil peluang perambatan gelombang suara erupsi ke arah Bandung Raya, sehingga sumber suara dentuman diduga kuat berasal dari sumber lain yang masih memerlukan kajian mendalam.
Di sisi lain, instrumen BMKG mencatat beberapa anomali yang menjadi bahan analisis lanjutan.
Pemantauan di Pulau Sebesi merekam anomali seismogram pada pukul 23.08 WIB dan 23.32 WIB (16.08 UTC dan 16.32 UTC). Stasiun magnet bumi di Sukabumi (SKB) dan Serang (SRG) juga mencatat gangguan magnetik internal bumi pada periode 4 September pukul 23.00 WIB hingga 5 September pukul 02.00 WIB, tanpa ditemukannya aktivitas badai matahari.



