Bagi saya, ia juga mempertemukan Solo dan Gorontalo dalam satu ruang imaji, ruang di mana topeng dan karawo saling menyapa, saling mengakui keberadaan, dan sama-sama merayakan perempuan sebagai pusat kreativitas.
Di balik topeng-topeng yang megah itu, ada kecantikan yang tidak mudah didefinisikan. Ia tidak meminta untuk dinilai, hanya untuk dirasakan.
Dan mungkin, di situlah letak magisnya keberagaman budaya: ia mengajarkan kita bahwa kecantikan memiliki banyak wajah, banyak bahasa, dan selalu menemukan jalannya sendiri untuk hidup—selama ada manusia yang mau merawat dan merayakannya. (Novita J. Kiraman)




