Topeng dan karawo mungkin berbeda medium, tetapi keduanya berbicara tentang hal yang sama: bagaimana perempuan merepresentasikan dirinya melalui budaya. Keduanya adalah bahasa nonverbal yang kuat, sama-sama lahir dari tradisi, dan sama-sama menyimpan cerita panjang tentang identitas.
Keberagaman inilah yang membuat kebudayaan Indonesia terasa magis. Tidak semua daerah harus memiliki tradisi yang sama untuk menjadi kaya. Justru perbedaan itulah yang menciptakan keunikan. Solo dengan topengnya, Gorontalo dengan karawonya. Keduanya berdiri sejajar sebagai ekspresi kecantikan budaya yang berbeda wajah, tetapi serupa jiwa. IMF mengingatkan saya bahwa budaya tidak pernah Tunggal. Ia selalu jamak, berlapis, dan penuh tafsir.
Dalam konteks IMF, perempuan tampil sebagai pusat gravitasi. Mereka bukan pelengkap panggung, melainkan narasi itu sendiri. Di balik topeng, perempuan mengartikulasikan kemarahan, ketenangan, hasrat, dan kebijaksanaan.
Empat sifat manusia yang di kemas dalam sebuah tarian topeng Janma Krodha. Topeng memberi jarak, tetapi juga memberi keberanian. Ia melindungi, sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk menyuarakan sisi-sisi diri yang mungkin sulit diungkap di tengah maraknya pembungkaman terhadap perempuan.

Ketika musik mengalun dan penonton larut dalam suasana, saya menyadari satu hal: festival bukan hanya tentang tontonan, tetapi tentang perjumpaan. IMF mempertemukan budaya lintas negara, lintas generasi, dan lintas perspektif.




