Darilaut – Ratusan kapal penangkap cumi-cumi membentuk barisan panjang di perairan “Mile 201”, tepat di luar batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Argentina. Dari luar angkasa, area itu tampak seperti sabuk cahaya yang tak berujung. Namun di balik pemandangan spektakuler tersebut, tersembunyi dinamika ekonomi dan geopolitik yang kompleks.
Laporan Environmental Justice Foundation (EJF) menunjukkan bahwa antara 2019–2024, rata-rata 343 kapal jigging beroperasi di wilayah ini setiap tahun, dengan 74,6 persen di antaranya berbendera Tiongkok. Armada itu bertanggung jawab atas 91 persen total upaya penangkapan di wilayah tersebut. Aktivitas intensif ini mendorong peningkatan produksi cumi-cumi global, menjadikan Tiongkok sebagai negara penangkap dan eksportir cumi-cumi terbesar di dunia.
Namun, keuntungan ekonomi ini datang dengan harga mahal. Tanpa regulasi internasional yang mengikat, operasi di laut lepas tersebut telah melemahkan upaya konservasi nasional Argentina. Pemerintah Argentina menyebut aktivitas ini “menggerogoti sumber daya alam dan kedaulatan ekonomi negara.” Dalam dekade terakhir, ekspansi armada laut jauh Tiongkok juga menimbulkan ketegangan diplomatik dengan negara-negara pesisir Amerika Selatan.
EJF memperingatkan bahwa eksploitasi tanpa kendali dapat menyebabkan keruntuhan perikanan dan konflik ekonomi antarnegara. Penurunan stok cumi-cumi tidak hanya mengancam industri perikanan Argentina, tetapi juga stabilitas rantai pasok pangan global. Organisasi ini menyerukan pembentukan mekanisme pengelolaan berbasis sains, peningkatan transparansi data tangkapan, serta kolaborasi lintas negara untuk menghindari krisis yang lebih luas.




