“Saya ingin mengerjakan krustasea dan yang banyak orang krustasea itu di Paris,” kata Yoyo seperti dikutip dari Lipi.go.id.
Kendati demikian, Yoyo justru ditawari untuk meneliti kelomang. “Kalau saya lihat kala itu, waktu saya kuliah di Universite Pierre & Marie Curie, Paris VI, Paris, kelomang ternyata menarik sekali, unik, dan tidak banyak yang mengerjakan apalagi dari Indonesia. Publikasinya pun hampir tidak ada,” kata perempuan kelahiran Mojokerto 1957 ini seperti dikutip dari Oseanografi.lipi.go.id.

Banyak fungsi kelomang di alam. Begitupula dengan kepiting. Peluang untuk mengerjakan penelitian ini sangat besar.
Yoyo mengajak kita semua untuk menjaga lingkungan sesuai kemampuan masing-masing. Sehingga, keberlanjutan sumber daya laut sebagai sumber kehidupan di masa mendatang tetap terjaga.
“Biodiversitas harus kita jaga, karena dalam waktu bersamaan kita dapat mempelajari bagaimana memanfaatkannya sesuai kebutuhan manusia,” katanya.
Sebagai contoh spesies kepiting kelapa atau ketam kenari (Birgus latro) yang termasuk dalam kelomang yang dapat dijadikan peliharaan dalam akuarium.
Jika mampu membudidayakannya akan menjadi prospek ekonomi yang besar. Masalahnya, sekarang spesies ini masuk dalam daftar The International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species atau IUCN Red List. Hal ini karena siklus hidupnya belum diketahui secara tuntas.





Komentar tentang post