”Kalau di Gorontalo itu saat ini ada emas pak. Di dua wilayah tambang emas tentu pelestarian lingkungannya menjadi isu yang sangat penting. Tetapi kendala kita di lapangan adalah selama ini ketika penyusunan amdal dan sebagainya kampus dilibatkan, tetapi tidak ada jaminan hasil kajian kampus itu akan menjadi bahan eksekusi buat eksekutif,” ujar Rektor.
“Sehingga selalu saya mengatakan jangan ketika ada problem kampus ditanyakan solusinya karena ternyata sampai dengan hari ini kampus hanya menjadi penyedia alternatif solusi. Adapun eksekusinya itu bukan di kampus.”
Prof. Eduart mengusulkan agar forum ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan posisi strategis kampus dalam pengambilan keputusan.
Selain itu, mendorong Kementerian Lingkungan Hidup bersama perguruan tinggi dalam pengambilan kebijakan dan kepedulian terhadap eksploitasi sumber daya alam.

Rektor UNG menjelaskan bahwa pengembangan sawit dan tambang di Gorontalo telah menyebabkan daerah-daerah yang sebelumnya tidak terdampak, kini menjadi langganan banjir.
Pengembangan sawit di Gorontalo mengikuti Sumatera, tambang yang tentunya saat ini daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah banjir, ”saat ini sudah pasti banjir pak,” kata Rektor.
Prof. Eduart menyampaikan kontribusi UNG dalam pelestarian lingkungan. “Dan alhamdulillah juga kalau kampus UNG itu justru saat ini menjadi hutan kota terbesar yang ada di Kota Gorontalo,” ujarnya. Demikian juga kampus yang ada di Kabupaten Bone Bolango,




