Darilaut – Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) diikuti dengan tsunami, pada Sabtu (15/8) pagi.
Hingga Senin (17/8) pukul 11.00 WIB atau 12.00 Wita, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 1624 gempa susulan (aftershock) telah terjadi dengan magnitudo bervariasi M 1,3 – M 6,2.
Di antara ribuan gempa susulan tersebut, gempa dengan magnitudo M>5 sebanyak 23 kejadian dan gempa bumi susulan yang dirasakan berjumlah 59.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa bumi pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB atau 05.58 Wita, dengan parameter update M 7,7 sehingga berdampak tsunami di wilayah sekitarnya.
Gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
“BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0.5 – 3 meter) dan Waspada (<0.5 meter),” kata Wijayanto di Jakarta (17/8).
Beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan status Siaga dan wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo untuk status Waspada.



