Secara sederhana, menurut Daryono, earthquake clustering adalah fenomena ketika beberapa gempa terjadi berdekatan dalam kurun waktu atau wilayah tertentu, sehingga secara kasat mata terlihat seperti sebuah “kelompok” atau gelombang kejadian.
Namun, dari sudut pandang seismologi modern, pemusatan kejadian ini sebagian besar merupakan implikasi dari proses fisik yang spesifik.
Daryono mengatakan secara statistik acak, gempa independen yang berasal dari segmen tektonik berbeda dapat melepaskan energi dalam jendela waktu yang berdekatan murni karena kebetulan. Setiap sumber gempa memiliki siklus pengumpulan energi (stress accumulation) dan masa pelepasan energi (recurrence interval) masing-masing.
Ketika dua atau lebih segmen yang berjauhan kebetulan mencapai titik jenuh (failure threshold) pada waktu yang hampir bersamaan, kejadian gempa akan tampak seperti mengelompok, padahal tidak ada keterikatan fisik atau mekanisme saling picu di antara mereka.
Dalam konteks episenter yang saling berjauhan hingga ratusan atau puluhan ribu kilometer, earthquake clustering yang terlihat di media atau katalog gempa hampir dipastikan merupakan kebetulan temporal, karena medan tegangan statik dari satu gempa tidak mampu menjangkau zona tektonik independen lainnya.




