Secara tektonik dan mekanika batuan, ketiga gempa (Flores, Sumut, dan Sulteng) ini “berakar dari sistem penunjaman dan struktur yang sepenuhnya terpisah, serta beroperasi dengan mekanisme deformasi yang berbeda,” tulis Daryono.
Gempa Flores (M 7,7) merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 km yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif naik Flores (Flores back-arc thrust). Sebaliknya, gempa Sumatra Utara (M6,7; kedalaman 172,5 km) dan gempa Parigi Moutong (M5,7; kedalaman 72,5 km) keduanya dipicu oleh intraslab deformation, yakni Deformasi internal pada slab lempeng tektonik yang menunjam ke dalam lapisan astenosfer, bukan akibat pergeseran patahan di kerak dangkal.
Dalam seismologi, kata Daryono, interaksi antar-gempa umumnya ditinjau melalui transfer tegangan (stress transfer). Konsep transfer tegangan statik (static stress trigger) dipastikan tidak bekerja pada kasus ini karena radius perubahan medan Coulomb failure stress akibat gempa Flores sangat terbatas dan menurun drastis seiring bertambahnya jarak, sehingga tidak mampu menjangkau zona Sumatra Utara maupun Sulawesi Tengah yang berjarak ratusan hingga ribuan kilometer.
Sementara itu, hipotesis transfer tegangan dinamik (dynamic stress trigger) melalui rambatan gelombang seismik permukaan (surface waves) memang diakui secara teoritis dapat merentang jauh, namun hingga saat ini belum ada konsensus maupun bukti empiris yang valid dalam ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa perambatan gelombang tersebut mampu memicu rupture besar pada zona subduksi terpisah secara serta-merta.




