Catatan sejarah aktivitas Krakatau tahun 1883 adalah peristiwa erupsi besar yang menghasilkan tsunami.
Selain itu, goncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018.
Setelah 22 Desember 2018, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023.
Jeda erupsi cukup lama berlangsung hingga kembali menghasilkan erupsi tanggal 2 Juli 2026.
Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB setelah terdeteksi peningkatan kegempaan vulkanik dan deformasi. Dalam periode peningkatan aktivitas tersebut, tercatat sebanyak 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.
Aktivitas kembali meningkat dengan terjadinya erupsi menerus selama sekitar 25 jam mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Berdasarkan pantauan data citra satelit, erupsi tersebut menghasilkan aliran lava ke arah barat laut – barat – barat daya dari pusat erupsi.
Setelah periode tersebut, aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan kecenderungan menurun hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB.
Kondisi tersebut diperkuat oleh data deformasi yang menunjukkan adanya deflasi. Pada 20 September 2026, tercatat satu kali Gempa Low Frequency dan tremor menerus dengan rata-rata amplitudo 2 milimeter.



