Prof. Ismail mengajak untuk membangun masa depan yang cerdas, berlandaskan sains, dan berorientasi pada prediksi yang presisi.
Transformasi pemanfaatan statistika dari model-model klasik menuju pendekatan hybrid dan kecerdasan buatan menandai era baru peramalan berbasis data besar. Hal ini menegaskan urgensi penguatan literasi data dan kapasitas komputasional generasi muda.

Oleh karena itu, kata Prof. Ismail, investasi dalam pendidikan statistik aplikatif dan infrastruktur pendukungnya menjadi prasyarat mutlak dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan responsif terhadap perubahan.
”Dengan mengembangkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri, kita dapat membangun ekosistem ilmu statistik yang tidak hanya relevan secara akademik, juga kontributif dalam perumusan kebijakan berbasis bukti,” ujarnya.
Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat riset, memperluas diseminasi hasil kajian, dan mendorong inovasi metode prediktif berbasis time series yang lebih presisi dan inklusif.
Dalam orasi ilmiah Prof. Ismail menjelaskan analogi visual yang menarik mengenai pohon statistika, di mana akar pohon mencerminkan dasar teoritisnya. ”Batang adalah jembatan menuju aplikasi, dan cabang serta daunnya adalah metode-metode yang terus berkembang,” ujarnya, ”termasuk di dalamnya machine learning dan biostatistika.”




