Menurut Derri, tradisi lisan, praktik budaya, serta ingatan kolektif masyarakat kepulauan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sumber pengetahuan yang terus berkembang dan memiliki relevansi dalam menjawab tantangan perubahan iklim, degradasi lingkungan, maupun tekanan pembangunan.
“Paparan Prof. Melani memberikan kerangka berpikir kritis bahwa kekayaan kita, seperti tradisi lisan dan ritual, bukanlah sesuatu yang kaku atau hanya untuk disimpan di museum,” ujarnya.
”Pengetahuan lokal ini harus terus diperbarui dan diadaptasi agar bisa menjadi alat bagi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim maupun tekanan industri besar.”
Istilah Maritim
Nusantara selama ini kerap digaungkan sebagai simbol kejayaan maritim masa lalu dan simbol kemegahan. Namun, di balik narasi besar tersebut, masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil masih menghadapi kenyataan yang bertolak belakang: akses yang timpang, ancaman perubahan iklim, reklamasi pesisir, hingga penggusuran ruang hidup.
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) Prof. Melani Budianta, mengatakan, istilah maritim cenderung bersifat militeristik dan berorientasi pada kekuasaan negara yang terpusat.
Prof. Melani mengkritisi penggunaan istilah “maritim” yang menurutnya lebih banyak dipahami melalui pendekatan negara (militeristik) yang bersifat terpusat dan berorientasi pada kekuasaan.




