”Laporan ini menyoroti pentingnya pengamatan, sistem peringatan dini, dan layanan iklim dalam membantu negara dan masyarakat untuk lebih siap menghadapi risiko terkait iklim.”
Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), Armida Salsiah Alisjahbana, mengatakan di seluruh Asia dan Pasifik, panas memperparah risiko multi-bahaya, bersinggungan dengan sistem pangan, kesehatan masyarakat, infrastruktur, dan laut, serta memberikan tekanan baru pada kesehatan dan mata pencaharian.
”Peringatan dini dan tindakan dini menyelamatkan nyawa ketika peringatan tepat waktu, pesan dipercaya, dan penyampaian hingga ke pelosok mencapai pihak yang rentan. Ketahanan dibangun dari waktu ke waktu, melalui budaya kesiapan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Laporan ini dirilis selama Lokakarya Layanan Gelombang Panas Laut Asia Tenggara di Singapura, 7-10 Juli 2026, yang diselenggarakan oleh Pusat Meteorologi Khusus (ASMC) Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Produk prakiraan gelombang panas laut membantu memberikan peringatan dini yang penting dan memberi pengguna waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi dampaknya.
Laporan Kondisi Iklim di Pasifik Barat Daya 2025 mencakup kontribusi dari Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional, para ahli iklim dan kelautan, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa dan mitra internasional lainnya.




