Alfi Rahman, Peneliti di Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC), Universitas Syiah Kuala dan Stephen A. Sutton, mahasiswa doktoral di Charles Darwin University menguraikan kisah tersebut di Conversation Media Group (theconversation.com).
Salah satu cara penting untuk mewujudkannya dengan mengutamakan pengetahuan lokal tradisional serta ingatan kolektif mengenai peristiwa-peristiwa masa lalu.
Kerangka Kerja Internasional untuk Pengurangan Risiko Bencana (DRR), atau Sendai Framework for Disaster Risk Reduction (SFDRR) 2015–2030, telah menekankan pentingnya memanfaatkan pengetahuan lokal.
Untuk mengurangi risiko bencana, kita perlu membangun dinamika sosial yang memperkuat pengetahuan lokal, baik pada tingkat individu maupun masyarakat secara keseluruhan.
Salah satu contoh penting pengetahuan lokal yang terbukti menyelamatkan nyawa berasal dari Pulau Simeulue di Kabupaten Aceh, yakni kisah tentang smong. Pada 26 Desember 2004, seorang pelajar bernama Almahdi sedang merokok di atas jembatan tinggi yang melintasi sungai di Banda Aceh.
Lahir di Simeulue, saat gempa bumi terjadi dan air laut surut, ia tahu apa yang akan menyusul. Ia pun berteriak, “Smong! Smong! Lari! Lari!”
Namun, orang-orang di sekitarnya justru memandangnya seolah-olah ia orang gila. Mereka tidak memahami arti kata smong dan tidak melarikan diri. Dalam waktu satu jam, banyak dari mereka tewas.




