Darilaut – Meningkatnya suhu global dan semakin seringnya suhu panas menunjukkan hubungan yang jelas dengan meningkatnya angka kesakitan dan kematian akibat gangguan jantung.
Salah satu dampak yang semakin mendapat perhatian ilmiah adalah meningkatnya kejadian heatstroke atau sengatan panas. Kondisi ini merupakan bentuk paling berat dari penyakit akibat panas dan dapat menyebabkan kegagalan organ, terutama pada sistem kardiovaskular.
Secara medis, heatstroke terjadi ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40°C dan disertai gangguan sistem saraf pusat seperti kebingungan, kejang, atau penurunan kesadaran.
Kondisi ini tidak hanya mencerminkan kegagalan sistem pengatur suhu tubuh, tetapi juga menandakan terjadinya kerusakan sistemik pada berbagai organ penting.
Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo masing-masing Nayla Prima Dyta, Ativa Muthia Diniyah, Andi Safa Natasya Lukman, Nadine Khaira Zahratunnisa Abdul, Fatmawati Adelia Pakaya, dan Sri Manovita Pateda mengkaji dalam jurnal dengan judul “Cardiovascular Dysregulation in Heat Stroke Driven by Climate Change: Pathophysiology and Clinical Implications.”
Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu lingkungan bahkan sebesar 1°C di atas ambang normal dapat meningkatkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga sekitar 2,1%. Temuan ini memperlihatkan betapa sensitifnya sistem jantung dan pembuluh darah terhadap perubahan suhu lingkungan.




