Di Kota Jayapura peningkatan peluang hujan ekstrem paling kuat terjadi ketika Gelombang Rossby Ekuatorial berinteraksi dengan sirkulasi meridional.
Kombinasi tersebut menjadi lebih signifikan ketika turut melibatkan gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG) yang membantu memfokuskan konvergensi di sekitar ekuator dan memperkuat akumulasi uap air di utara Papua.
Fadli juga menjelaskan perbedaan karakteristik kedua kota tercermin dalam pola waktu kejadian hujan ekstrem. Di Padang, puncak hujan ekstrem umumnya terjadi pada sore hingga malam hari, sejalan dengan pengaruh pemanasan siang dan penguatan orografis.
Sebaliknya, di Jayapura, puncak hujan ekstrem lebih dominan terjadi pada dini hari yang mencerminkan peran proses laut dan propagasi sistem konvektif yang dipengaruhi gelombang atmosfer.
Studi ini menegaskan bahwa untuk memahami dan meningkatkan kemampuan prediksi kejadian hujan ekstrem di Indonesia, diperlukan pendekatan yang melihat interaksi antar proses atmosfer secara terpadu, bukan hanya satu faktor secara terpisah.
Fadli mengatakan temuan ini diharapkan dapat mendukung penguatan sistem peringatan dini serta mitigasi bencana hidrometeorologi di wilayah Indonesia yang rentan terhadap variabilitas iklim tropis.




