Menurut Dewi, ICT Watch akan berkomitmen untuk memastikan bahwa perspektif masyarakat sipil dari Global South, khususnya Indonesia, dapat tersampaikan dalam pembentukan tata kelola AI global.
Hal ini mencakup isu-isu krusial seperti perlindungan dan hak-hak anak, perempuan, penyandang disabilitas, masyarakat adat, serta suara kelompok rentan dan minoritas lainnya, kata Dewi.
Peluncuran jaringan ini dilakukan dalam sesi pleno bertajuk “Amplifying the Voices of CSOs and Academic Institutions in AI: Collaboration, Knowledge, and Action”.
Dalam jaringan global ini, ICT Watch adalah satu-satunya organisasi dari Indonesia, dan hanya bersama dengan EngageMedia yang dapat dikatakan dari Asia Tenggara. Posisi ini menjadikan ICT Watch sebagai jembatan strategis untuk menyuarakan masyarakat digital Indonesia dalam diskursus kebijakan AI global.
Jaringan global yang baru diluncurkan ini telah menghimpun 56 organisasi masyarakat sipil dan lembaga akademik dari berbagai belahan dunia.
Selain mendukung implementasi Rekomendasi UNESCO tentang Etika AI (recommendation on the ethics of AI), jaringan ini juga akan berkontribusi terhadap pengembangan metodologi penilaian kesiapan AI (readiness assessment).
Kemudian, penilaian dampak etis (ethical impact assessment) serta mendorong kolaborasi lintas negara dalam riset, pelatihan, dan advokasi publik.




