Diskusi dalam forum memperlihatkan bahwa masyarakat sipil tidak hanya pelengkap, tetapi merupakan aktor kunci yang menjaga keadilan, inklusivitas, transparansi, akuntabilitas, dan legitimasi dalam pengembangan AI.
Namun, peran strategis ini juga menghadapi tantangan nyata. Hadir pula dalam peluncuran tersebut di Bangkok adalah Donny Utoyo, Founder / Advisor ICT Watch dan Aulia Bunga, Partnership Manager ICT Watch.
Berdasarkan hasil awal survei global UNESCO yang sedang berlangsung, teridentifikasi tiga (3) tantangan utama yang dialami banyak organisasi masyarakat sipil dalam keterlibatan mereka di bidang tata kelola AI.
1) kurangnya pengetahuan teknis,
2) minimnya akses informasi tentang forum partisipasi, dan
3) keterbatasan pendanaan untuk membangun kapasitas dan hadir dalam ruang-ruang kebijakan.
Laporan lengkap survei ini akan dirilis dalam policy brief pada Oktober 2025 di Jenewa.
Jaringan ini diharapkan tidak hanya memperluas representasi, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat sipil melalui kolaborasi global, pertukaran pengetahuan, dan advokasi berbasis nilai.
Apalagi, di tengah pesatnya transformasi yang dibawa AI generatif termasuk dampaknya pada dunia kerja, pendidikan, dan hak digital.
Untuk itu, peran masyarakat sipil menjadi krusial untuk memastikan pengembangan AI yang berpihak pada manusia dan keadilan sosial.




