Suhaila menjelaskan, medaka berpotensi besar dalam riset biomedis lintas bidang, mulai dari toksikologi, metabolisme obat, hingga penyakit yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan lingkungan.
“Penemuan ini membuka peluang untuk memperluas penggunaan medaka sebagai organisme model di Asia Tenggara,” ujarnya.
M. Rahmad Royan dari Norwegian University of Life Sciences menjelaskan optogenetika atau teknologi pengendalian aktivitas sel menggunakan cahaya pada organisme yang telah dimodifikasi secara genetik, telah membuka peluang baru dalam pemetaan mekanisme seluler dan sistem saraf.
Dalam penelitiannya, Royan mengembangkan pendekatan optogenetik bebas gerak, yang memungkinkan stimulasi hormon secara alami tanpa membatasi pergerakan hewan.
Teknik tersebut memanfaatkan sistem berbasis fotoreseptor Opn5m, yang dapat mengaktifkan jalur hormonal melalui paparan cahaya tertentu. Pendekatan ini dinilai memiliki prospek besar untuk studi berbagai gangguan hormonal, termasuk hipogonadotropik hipogonadisme, akromegali, dan sindrom cushing.
Pada kesempatan tersebut, Royan juga menawarkan peluang kolaborasi bagi peneliti Indonesia, termasuk menyediakan bibit medaka hasil pengembangannya bersama peneliti Jepang.
Posisi zebrafish dan medaka sebagai dua hewan model penting yang mampu menjawab kebutuhan riset biomedis modern.




