Ukuran kecil ikan ini memungkinkan pemanfaatan format 96-well plate, sehingga ribuan senyawa obat dapat disaring dengan efisien.
Hal ini terbukti penting dalam penelitian penemuan obat, misalnya pada studi penyaringan 4.200 senyawa untuk memperbaiki fenotipe mutasi plakoglobin. “Hasilnya kemudian diuji pada tikus dan menunjukkan pemulihan fungsi jantung,” ujarnya.
Menurut Salim, zebrafish mampu mendeteksi hingga 87 persen senyawa teratogenik hanya dalam lima hari, jauh lebih efisien dibandingkan pengujian pada mamalia. Zebrafish tersebut menjadi jembatan ideal antara uji in-vitro dan mamalia karena memadukan efisiensi dan kompleksitas fisiologis vertebrata.
Sementara itu, Suhaila Rusni dari International Islamic University Malaysia menjelaskan medaka memiliki karakteristik biologis yang sangat mendukung penelitian genetika dan penyakit metabolik. Melalui teknologi CRISPR/Cas9, tim peneliti berhasil melakukan gen knockout terhadap gen cytochrome P450 1a (cyp1a).

Hasilnya, ikan medaka yang kehilangan gen tersebut menunjukkan karakteristik serupa penderita diabetes, seperti kenaikan kadar glukosa darah dan pembesaran hati. Model ini dinilai efisien untuk studi metabolisme lipid, regulasi glukosa, serta pengembangan pendekatan diagnosis dan terapi penyakit metabolik.




