Dasar dari terumbu berbentuk seperti pisau dengan lebar 1,5 kilometer, kemudian naik 500 meter. Puncak terumbu berada di ke kedalaman 40 meter di bawah permukaan laut.
Terumbu lepas yang menjulang tinggi pernah dipetakan di kawasan tersebut pada tahun 1800-an, termasuk terumbu di Pulau Raine – daerah tempat bertelur penyu hijau terpenting di dunia.
Salah satu pendiri Schmidt Ocean Institute, Wendy Schmidt, mengatakan, penemuan tak terduga ini lebih menegaskan bahwa kita belum benyak mengetahui spesies baru di lautan kita.
“Pengetahuan kita tentang apa yang ada di lautan telah lama dan sangat terbatas,” kata Wendy, seperti dikutip dari siaran pers.
Menurut Wendy, berkat teknologi baru yang berfungsi saat mata, telinga, dan tangan kita berada di laut dalam, kita memiliki kemampuan untuk menjelajah tidak seperti sebelumnya.
Bentangan samudera terbuka bagi kita untuk mengungkap ekosistem baru dan beragam bentuk kehidupan yang ada di planet ini.

“Kami terkejut dan gembira dengan apa yang kami temukan,” kata Dr Beaman.
Menurut Dr Beaman, temuan ini tidak hanya dapat dipetakan 3D dengan lebih detail, tetapi dapat dilihat secara langsung dengan SuBastian. Ini sungguh luar biasa dan hanya dimungkinkan karena komitmen Schmidt Ocean Institute.
Pada bulan April lalu, para ilmuwan juga telah menemukan siphonophore, makhluk laut terpanjang. Tercatat siphonophore memiliki panjang 45 meter di Ningaloo Canyon. Selain itu, terdapat 30 spesies baru lainnya.





Komentar tentang post