Dalam banyak budaya, topeng sering dianggap sebagai medium transformasi: seseorang menanggalkan identitasnya dan memasuki peran baru. Bagi perempuan, ruang transformasi ini membuka kesempatan untuk tampil di panggung yang selama ini sering didominasi laki-laki.
IMF 2025 menghadirkan momentum di mana perempuan tidak hanya berada di balik layar, tetapi juga menjadi wajah depan narasi budaya. Mereka menari, memainkan karakter, dan menafsir ulang cerita-cerita klasik, sekaligus menunjukkan bahwa tradisi tetap relevan ketika disentuh oleh perspektif generasi muda khususnya generasi perempuan.
Untuk memperluas jangkauan audiens, panitia IMF 2025 menghadirkan grup music Banda Neira sebagai penampil utama. Kehadiran grup yang sempat vakum delapan tahun ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang tumbuh besar dengan lagu-lagu mereka.

Saat Ananda Badudu dan Sasha Iguana naik ke panggung pukul 21.00, ribuan penonton langsung merapat. Mereka duduk memenuhi area festival, larut dalam suasana hangat dan syahdu. Lagu-lagu seperti “Sampai Jadi Debu”, “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”, dan “Di Atas Kapal Kertas” menggema di antara dentingan bunyi topeng dan gemerincing kostum para penari.
Kehadiran Banda Neira bukan hanya hiburan melainkan strategi cerdas untuk menjembatani generasi muda dengan seni tradisi topeng. Musik menjadi pintu masuk, budaya menjadi ruang perjumpaan.




