Dwikorita mengatakan informasi yang diolah BMKG menjadi bagian penting literasi iklim para nelayan dan petani. Informasi tersebut berpengaruh pada pola tanam, kapan mulai bercocok tanam, panen, hingga varietas tanaman yang ditanam.
“Jadi mereka (petani) bisa membuat persiapan jika akan ada cuaca ekstrem,” kata Dwikorita.
Dwikorita mengatakan BMKG selama ini menggunakan pendekatan informasi kepada petani dengan Sekolah Lapang Iklim atau Climate Field School yang telah digelar sejak 2013. Hasil dari sekolah ini diklaim telah meningkatkan produksi tahunan petani.
Selain produksi tanaman pertanian, Dwikorita mengatakan Sekolah Lapang Iklim membuat petani bertahan dari gempuran El Nino.
“Meskipun ada El Nino, petani tetap bertahan. Mereka bisa meningkatkan produksinya hingga 39 persen,” ujarnya.
Selain sekolah bagi petani, BMKG juga memiliki Sekolah Lapang Cuaca Nelayan. Melalui sekolah lapang tersebut ada nelayan yang sukses menyelamatkan seluruh orang di desanya dari angin topan tropis.
Hal ini karena nelayan tersebut mampu mempertahankan komunikasi melalui telepon seluler digital dan mereka mendapatkan informasi dengan cepat bertindak untuk mengevakuasi daerah sekitar.
Dwikorita mengatakan pelayanan informasi cuaca dan iklim berbasis sains menjadi jembatan untuk multisektor. Tak hanya petani dan nelayan, informasi cuaca membantu sektor pariwisata hingga kesehatan.





Komentar tentang post