Darilaut – Pergerakan ikan Hiu Berjalan (Hemiscyllium spp.) tidak seperti ikan pada umumnya yang berenang lepas di perairan. Ikan Hiu Berjalan hanya bergerak di dasar perairan dengan menggunakan otot sirip dada.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Fahmi, mengatakan alasan dinamakan hiu berjalan karena pergerakannya di dasar perairan seperti sedang berjalan, bukan berenang sebagaimana jenis ikan pada umumnya.
Menurut Fahmi sifat biologi kelompok ikan hiu berjalan cenderung menetap di dasar perairan dan lebih menggunakan otot sirip dada atau pektoral untuk melakukan pergerakan tersebut. Ikan ini termasuk kelompok ikan berukuran kecil.
Hasil penelitian, kata Fahmi, dugaan populasi hiu berjalan spesies Hemiscyllium halmahera sekitar 110 individu/ kilometer persegi dengan estimasi populasinya di alam sekitar 400.000 individu.
Sedangkan untuk spesies Hemiscyllium henryi sebesar 40 individu/ kilometer persegi dengan estimasi populasi di alam sebesar 46.000 individu.
Spesies Hemiscyllium freycineti sebesar 200 individu/ kilometer persegi dengan estimasi populasi sekitar 660.000 individu. Untuk spesies Hemiscyllium galei sebesar 36 individu/ kilometer persegi dengan estimasi populasi sekitar 54.000 individu.
Spesies Hemiscyllium strahanii sebesar 180 individu/ kilometer persegi dengan estimasi populasi sekitar 130.000 individu.
“Spesies Hemiscyllium trispeculare sebesar 180 individu/kilometer persegi dengan estimasi populasi sekitar 130.000 individu,” kata Fahmi dalam kegiatan Temu Pakar untuk Usulan Inisiatif Perlindungan Hiu Berjalan (Hemiscyllium spp.).
Kegiatan ini digelar Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Sejumlah ahli memberikan rekomendasi untuk mencegah ikan hiu berjalan (walking sharks) punah di alam.
Kegiatan temu pakar bertujuan untuk menjaring masukan dan merupakan bagian dari tahapan penetapan status perlindungan hiu berjalan.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah ahli yang berasal dari BRIN, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP), Universitas Halmahera, Universitas Khairun, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pulau Morotai, Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia, Elasmobranch Project Indonesia dan mitra konservasi.
Senior Ocean Program Lead Yayasan Konservasi Cakrawala Indonesia (YKCI), Victor Nikijuluw, mengatakan keterbatasan penelitian dan kajian tentang hiu berjalan di Indonesia merupakan salah satu hambatan dalam penetapan status pelindungan hiu berjalan ini.
Akan tetapi, kata Victor, melihat indikasi adanya ancaman kepunahan, maka upaya konservasi dan pengelolaan, termasuk status pelindungannya perlu ditingkatkan untuk memastikan populasi hiu berjalan di alam tetap lestari.
“Kita berharap bisa mendukung KKP untuk melengkapi dan mengumpulkan informasi tentang hiu berjalan guna menyempurnakan usulan inisiatif penetapan status perlindungan hiu berjalan di Indonesia,” ujar Victor.
Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Andi Rusandi, mengatakan berdasarkan penilaian pada tahun 2020, seluruh spesies hiu berjalan telah masuk dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengingat kerentanan dan kelangkaannya.
Bahkan, menurut Andi, dua spesies ikan hiu berjalan masuk ke dalam kategori hampir terancam (near threatened), tiga spesies dikategorikan rentan (vulnerable), dan satu spesies memiliki kategori sedikit perhatian (least concern).
Andi mengatakan ikan ini cenderung mendapat tekanan yang berasal dari faktor antropogenik. Di samping itu, ikan hiu berjalan memiliki pergerakan yang lamban dan tidak berbahaya sehingga mudah untuk ditangkap.
Menurut Andi meskipun jenis ikan hiu ini bukan merupakan target sebagai ikan konsumsi, tapi pemanfaatannya diduga semakin meningkat untuk keperluan ikan hias sehubungan dengan karakter dan morfologinya yang unik.
