Menurut ReCAAP ISC, 82% dari semua insiden (108 dari 132) terjadi di Selat Malaka dan Singapura (SOMS).
Insiden di Selat Malaka dan Singapura meningkat sebesar 74%, dari 62 pada tahun 2024 menjadi 108 pada tahun 2025, level tertinggi yang tercatat untuk periode 2007–2025.
Sekitar 87% insiden di Selat Malaka dan Singapura terjadi dalam tujuh bulan pertama tahun 2025.
Insiden menurun tajam dari Agustus hingga Desember 2025 menyusul penangkapan oleh otoritas Indonesia pada bulan Juli dan Agustus, yang memiliki efek jera yang kuat.
Tidak ada penculikan awak kapal untuk tebusan yang dilaporkan di Laut Sulu-Celebes pada tahun 2025.
Insiden terakhir terjadi pada Januari 2020, dan tingkat ancaman diturunkan menjadi “RENDAH” pada Januari 2025.
Meskipun menurun, risiko tetap ada karena sisa-sisa Kelompok Abu Sayyaf (ASG) di wilayah Sulu dan Tawi-Tawi.
Kapal-kapal disarankan untuk tetap waspada, melaporkan insiden, dan menjaga komunikasi dengan pihak berwenang terkait saat melintasi wilayah tersebut.
Secara keseluruhan, dalam laporan ReCAAP ISC, terjadi peningkatan jumlah insiden yang dilaporkan selama tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024, di lokasi-lokasi berikut:
India: Tiga insiden dilaporkan dibandingkan dengan dua insiden.
Selat Malaka dan Singapura (SOMS): 108 insiden dilaporkan dibandingkan dengan 62 insiden.




